Sabtu, 05 Januari 2013

PARADIGMA PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


PARADIGMA PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN
KHUSUS
 














Disusun dan di ajukan untuk memenuhi tugas idividu
Mata Kuliah:Dasar dan Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu:Drs.Wahyudin Zufri M.Pd

Disusun Oleh:Eka Ratna Sari
Prodi:PGSD 3/3


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
STKIP ISLAM BUMIAYU
2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Namun sayangnya sistem pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman, sehingga menyebabkan munculnya segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan agama, etnis, dan bahkan perbedaan kemampuan baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Jelas segmentasi lembaga pendidikan ini telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormati realitas keberagaman dalam masyarakat.
Perkembangan sejarah pendidikan bagi anak penyandang cacat yang yang disebut Pendidikan Luar Biasa (sebagai terjemahan dari Special Education), selama beberapa dekade telah mengalami banyak perubahan. Perubahan itu dipengaruhi oleh sikap dan kesadaran masyarakat terhadap anak penyandang cacat dan pendidikannya, metodologi dan perubahan konsep yang digunakan.
Peradaban manusia terus berkembang, pemahaman dan pengetahuan barus mengajarkan kepada manusia bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk hidup. Pandangan seperti inilah yang berhasil menyelamatkan kehidupan anak-anak penyandang cacat. Menyelatkan hidup anak-anak penyandang cacat menjadi penting karena dipandang sebagai symbol dari sebuah peradaban yang lebih maju dari sari suatu bangsa.
Anak penyandang cacat mulai diakui keberadaannya, dan oleh sebab itu mulai bediri sekolah-sekolah khusus, rumah-rumah perawatan, dan panti social yang secara khusus mendidik dan merawat anak penyandang cacat. Mereka yang menyandang kecacatan dipandang memiliki karakteristik yang bebeda dari orang kebanyakan, sehingga dalam pendidikannya mereka memerlukan pendekatan dan metode khusus sesuai dengan karakteristiknya. Oleh sebab itu pendidikan anak-anak penyandang cacat harus dipisahkan (di sekolah khusus) dari pendidikan anak-anak lainnya. Konsep pendidikan sepeti inilah yang disebut denganSpecial Education (di Indonesia diterjemahkan menjadi Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus), yang melahirkan system sekolah segregasi (Sekolah Luar Biasa).

b.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan ABK ?
2.      Bagaimana perkembangan pendidikan ABK di Indonesia ?
3.      Bagaimana kebutuhan akan pembelajaran bagi ABK ?
4.      Bagaimana metode pengajaran bagi ABK ?

c.       Tujuan
Tujuan di buatnya makalah ini, adalah agar kita sebagai calon guru, dapat ikut berperan dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, dan ikut mensukseskan masa depan anak tersebut. Di samping itu, apabila kita menemui seorang anak berkebutuhan khusus, kita dapat mengetahui langkah-langkah yang terbaik untuk menanganinya, seperti metode pembelajaran yang di gunakan, dll.












BAB II
PEMBAHASAN

a.      Definisi anak berkebutuhan khusus (ABK)
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus.
Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Istilah yang berkaitan dengan ABK :
1.     Disability : berkurangnya atau hilangnya fungsi organ atau bagian tubuh tertentu. Disebut juga “impairment”. Contoh : low vision, dimana kalau membaca bisanya dengan jarak dekat dan tulisan besar. Kerusakan fungsi pendengaran.
2.    Handicap : masalah atau dampak dari kerusakan (disability atau impairment) yang dialami oleh individu ketika berinteraksi dengan lingkungan. Contoh : orang tuna netra yang tidak bisa melihat, akan sulit berjalan di lingkungan yang dia ga kenal.
3.    At Risk : anak yang meskipun tidak teridentifikasikn memilki kerusakan namun berpeluang mengalami hambatan atau masalah tertentu. Contoh : seseorang yang tidak memilki gangguan tapi dia mengalami kesulitan selama belajar.


b.      Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia
Dewasa ini peran lembaga pendidikan sangat menunjang tumbuh kembang dalam berolah system maupun cara bergaul dengan orang lain. Selain itu lembaga pendidikan tidak hanya sebagai wahana untuk system bekal ilmu pengetahuan, namun juga sebagai lembaga yang dapat memberi skill atau bekal untuk hidup yang nanti diharapkan dapat bermanfaat didalam masyarakat.
Sementara itu lembaga pendidikan tidak hanya di tunjukkan kepada anak yang memiliki kelengkapan fisik, tetapi juga kepada anak yang memiliki keterbelakangan mental. Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya, sehingga perlu di bantu dan di kasihani untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu di sediakan berbagai bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka. Pada dasarnya pendidikan untuk berkebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak- anak pada umumnya. Disamping itu pendidikan luar biasa, tidak hanya bagi anak – anak yang berkebutuhan khusus, tetapi juga di tujukan kepada anak-anak normal yang lainnya.
Beberapa sekolah telah dibuka bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. System pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan siswa menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan sekolah – sekolah ini.
Di Indonesia pendidikan anak berkebutuhan khusus telah dimulai sejak zaman Belanda pada saat itu, pemerintah kolonial memperkenalkan sekolah dengan orientasi barat untuk pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat. (Tuna Grahita pada tahun 1927, Tuna Rungu 1930 di Bandung). Tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan melalui Pasal 6 ayat 2 “Pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan” .

c.       Kebutuhan akan pembelajaran
Menurut bull dan solity (1987), informasi yang jelas tentang kebutuhan pembelajaran anak-anak dapat membantu dalam pemantauan  lingkungan sang anak untuk memastikan keadaan lingkungan keas sesuai untuk aktivitas pembelajaran. Dalam penelitian tentang kecacatan dan implikasinya, biasanya implikasi kecacatan yang timbul, bergantung juga pada pengenalan awal. Bila gejala kecacatan dapat di ketahui lebih awal, dan tindakan dini, dapat di jalankan untuk menangani masalah ini, implikasi kecacatan dan kesulitan yang di hadapi, akan berkurang di bandingkan dengan kecacatan yang lambat di ketahui di awal.
Anak-anak dengan masalah pendengaran, masalah penglihatan, ataupun berbagai kecacatan yang kelihatan jelas, biasanya di kenali dan di diagnosis sebelum mereka masuk ke lingkungan sekolah. Sementara, kecacatan yang kurang terlihat, seperti masalah dalam pembelajaran, masalah berbahasa dan penturan, masalah emosi, attention defisit disorder / cacat mental ringan, biasanya, dapat di kenali oleh pihak sekolah. Kebanyakan anak-anak luar biasa / anak-anak berkebutuhan khusus mempunya prestasi akademik yang rendah, dan hal ini sering di kaitkan dengan adanya rasa malas, tidak produktif, enggan bekerjasama, dan kurangnya etika pergaulan.
Program pendidikan yang kurang sesuai juga berpengaruh dalam masalah tingkah laku murid, dan dapat menggagalkan proses pembelajaran. Program yang bersifat individu dan dalam bentuk perkembangan yang sesuai dapat mengurangi masalah pada anak-anak. Melalui program ini, anak-anak yang memerlukan bantuan khusus dapat di kenali dengan menggunakan dengan menggunakan proses penilaian berikut :
1.    Perjelas dan dokumentasikan tingkah laku anak-anak menggunakan berbagai sumber dan metode.
2.    Bandingkan dengan perkembangan yang seharusnya di alami oleh anak-anak normal.
3.    Selalu berkomunikasi dengan keluarga sang anak.
4.    Teliti, bicarakan dan tafsirkan informasi yang di dapat, termasuk semua informasi di dalam lingkungan kelas yang mungkin dapat membantu.
Sesudah itu, keputusan harus dapat di buat dalam situasi yang dapat di tangani sendiri / harus di bincangkan dengan para ahli.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, harus merasa nyaman, aman, dan terjaga, ketika menerima pelajaran (goldsmith dan goldsmith, 1998) dan penting pula untuk mewujudkan dalam lingkungan kelas, agar membuat anak-anak luar biasa, dapat memberi makna terhadap dunia skitarnya dan membentuk konsep tentang lingkungan mereka (brown,dkk, 1998).
Guru khusus, harus memastikan murid mereka mendapat manfaat dari hubungan dengan orang dewasa yang berinteraksi dengan mereka. Guru juga harus yakin bahwa lingkungan kelas yang di kelola dapat menggembirakan murid-murid dan tidak menghalangi mereka. Tanpa dokumentasi akan manfaat yang jelas, terbaru, dan mudah di gunakan, guru tidak dapat menghasilkan kualitas yang baik.
Pengetahuan tentang ciri-ciri kebutuhan khusus anak-anak menentukan implikasinya terhadap hal-hal berikut :
1.    Bentuk dan muatan kurikulum untuk memaksimalkan potensi pembelajaran anak-anak dan menjamin bahwa yang di ajarkan adalah relevan dengan kebutuhan anak-anak.
2.    Pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan dalam kemahiran yang di perlukan harus ada pada semua pihak yang terlibat dalam pendidikan untuk memastikan setiap aktivitas yang di jalankan efektif bagi pemenuhan kebutuhan anak-anak.
3.    Kriteria lingkungan yang di bentuk dapat meminimalkan kesan kekurangan terhadap ketidakmampuan mereka dan memberi suasana lingkungan yang aman, terjamin, dan mendorong perkembangan mereka.
4.    Penggunaan sumber daya dan bantuan untuk mendorong anak-anak memiliki pemahaman terhadap pembelajaran mereka.
5.    Rangkaian kerja dengan orang tua, yayasan pendukung, dan organisasi sukarela juga di perlukan untuk memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi secara keseluruhan.
Pihak sekolah juga harus terfokus pada keterampilan dan kebutuhan anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk mempersiapkan tindakan awal dengan hasil yang di inginkan, yaitu agar munculnya kemandirian pada diri anak-anak tersebut. Setiap anak-anak, harus di perlakukan secara objektif. berbagai jenis dan tingkat ketidakmampuan di komunikasikan dan tak apa jika seorang anak di cap memiliki kecacatan tertentu. Walau, pada kenyataanya, cap itu tidak membantu kita memahami jenis bantuan apa yang di perlukan untuk meminimalkan implikasi kecacatan itu padanya dan menimbulkan dorongan yang baik. Dua anak yang didiagnosis mengalami kecacatan yang sama, tidak selalu memiliki ciri-ciri yang sama, atau memerlukan pendidikan khusus yang sama. Ini menunjukan bahwa sebenarnya tidak ada satu pendekatan pengajaran yang memenuhi semua kebutuhan tersebut (Smith, 1991).
Konteks lingkungan adalah dasar dalam berlangsungnya pembelajaran yang ada (goldsmith dan goldsmith, 1998). Ciri-ciri anak-anak memberi banyak keterangan terhadap cara bagaimana bantuan khusus sebaiknya di siapkan untuk memastikan efektivitas yang maksimal. Implikasi kecacatan atau ketidakmampuan di lihat dari berbagai sisi dalam aspek implikasi terhadap murid maupun kurikulum sekolah. Muatan, bentuk, dan perencanaan kurikulum harus di pengaruhi oleh implikasi pendidikan dengan mempertimbangkan jenis kecacatan yang ada, agar anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan efektif (Brown et al., 1998). Terdapat juga implikasi langsung terhadap metode pengajaran yang harus di jalankan di sekolah, kemudahan yang harus di sediakan di sekolah, dan jenis rangkaian dengan yayasan lain yang harus di langsungkan untuk menangani penjagaan dan perawatan.

d.      Metode Pengajaran
1.      Pengajaran yang efektif
Guru yang efektif, adalah mereka yang selalu memperdalam keahliannya dalam pengajaran, agar pengajaran yang di lakukannya bermanfaat untuk murid luar biasa yang di didiknya. Kefektifan guru dapat di lihat dari 2 aspek, yaitu : banyaknya tujuan pembelajaran yang di capai oleh murid dan pola pengajaran yang berhubungan dengan pembelajaran seperti waktu,tenaga, dan usaha yang di curahkan oleh guru. Kefektifan pengajaran juga dapat di lihat dari pekembangan sosialisasi dan kemandirian murid luar biasa. Semakin banyak yang di capai oleh murid luar biasa, semakin efektif pengajaran guru itu. Ini, berarti bahwa guru yang efektif bukan saja membantu murid luar biasa mencapai tujuan pembelajaran, tetapi juga mengembangkan kemampuan yang harus di miliki oleh murid luar biasa.
Keefektifan pengajaran menunjukan guru yang mengajar adalah orang yang efisien, mempunyai ciri-ciri berikut (Olivia dan Henson 1980) :
a)    Mempunyai konsep kemandirian yang tinggi.
b)   Mempunyai pendidikan yang baik.
c)    Mempunyai pengetahuan dan minat, dalam bidang yang di ajar.
d)   Memahami prinsip dasar, dalam proses pembelajaran.
e)    Mementingkan keberhasilan murid.
f)    Bersikap adil.
g)   Menjelaskan suatu hal dengan terperinci dan jelas.
h)   Berpikiran terbuka.
i)     Menyenangkan murid.
j)     Menggunakan teknik dan metode pengajaran yang efektif.
k)   Dapat menjaga jalannya proses pembelajaran.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, jelaslah metode pengajaran yang efektif adalah hal yang penting dalam menjadikan guru itu efisien dengan pengajaran yang efektif.

2.      Penanganan murid berkebutuhan khusus
Dari waktu ke waktu, guru berhadapan dengan murid-murid yang memiliki masalah pembelajaran, apalagi untuk guru pendidikan khusus. Biasanya, berbagai teknik dan rancangan mereka pakai, namun pada akhirnya, mereka harus membuat penyesuaian karena setiap murid berbeda. Tidak semua teknik, efektif untuk semua murid dan guru harus menggunakan variasi teknik untuk mewujudkan lingkungan pembelajaran yang lebih kondusif untuk membantu murid dengan berkebutuhan khusus.

1)      Menangani murid yang memiliki masalah pembelajaran :
a)    Tugas dan bahan bantu
·      Beri tugas yang ringan, tetapi intensif.
·      Nilai tugas murid secepat mungkin dan berilah pujian dan jawaban lebih awal.
·      Bimbing murid dalam menggunakan berbagai metode alternatif dalam memperoleh atau menyampaikan informasi, seperti menggunakan kaset perekam,dan sebagainya.
·      Selalu adakan pertemuan dengan murid, walaupun dalam waktu yang ssebentar saja untuk membuatnya terdorong untuk bertanya, menyelesaikan tugas tepat waktu, merasa di hargai dan menghindari rasa terasing.
b)   Waktu dan ruang
·      Pastikan meja murid tidak di penuhi dengan berbagai bahan yang tidak di perlukan, dan bimbing murid belajar di ruangan yang di senangi.
·      Apabila memulai hubungan dengan murid, usahakan murid berdekatan dengan guru, untuk memudahkan pengawasan.
·      Guru harus berusaha memisahkan murid luar biasa, dengan murid yang mengganggunya.
·      Variasikan waktu istirahat dan waktu aktif untuk menjaga minat dan mitivasi murid.
·      Adakan perjanjian untuk tugas tertentu supaya murid dapat menepati tanggungjawabnya.
c)    Gaya
·      Ada murid yang dapat belajar lebih baik dengn cara melihat, mendengar, atau menyentuh. Penyesuaian harus di buat untuk menentukan sistem pembelajaran yang terbaik, untuk murid tersebut.
i.      Untuk pelajar auditoris
·      Beri arahan lisan dan tulisan.
·      Pastikan tugas juga di beri dalam bentuk kaset rekaman supaya murid dapat mendengarkanya dengan seksama.
·      Beri ujian lisan.
·      Pastikan murid menghafal informasi penting dan merekamnya.
ii.    Untu pelajar visual
·      Gunakan kartu penanda yang mengandung warna yang terang.
·      Biarkan murid memejamkan mata untuk membuat mereka dapat menggambarkan informasi/perkataan.
·      Dorong murid untuk mencatat nota dan memo untuk dirinya sendiri mengenai perkataan, konsep, atau ide penting.

2)      Menangani murid dengan gangguan emosi
a.    Masalah ketidakhadiran di sekolah
·      Beri penghargaan kepada murid, apabila ia sampai di sekolah tepat waktu
·      Bekerjasama dengan orang tua murid, dalam memberi penghargaan untuk kebaikannya tersebut.
·      Rencanakan aktivitas kelas/individu yang dapat memotivasi murid untuk hadir ke kelas.
·      Buat bagan untuk mencatat pola kelambatandan ketepatan waktu kehadirannya.
·      Gunakan sistem poin.
b.    Masalah yang berhubungan dengan keangkuhan, bahasa, dan tingkah laku.
·      Sediakan tempat untuk time out di dalam kelas untuk menempatkan murid, apabila tingkah lakunya tidak baik.
·      Sediakan waktu dimana murid dapat berbicara secara terbuka dengan guru tanpa kehadiran orang lain.
·      Dekati murid tersebut sesering mungkin, dan tanyalah apabila ada yang mengganggu perasaannya.
·      Beri pilihan kata-kata yang memengaruhi emosi supaya murid dapat mengenal dan menyatakan perasaanya.
·      Jauhkan murid dari siapa saja yang mengganggunya/menyebabkan emosinya labil.
·      Pastikan murid tahu hukuman dan ganjaran untuk setiap tindakanya.
·      Beri pilihan respons tingkah laku dan jelaskan tingkah laku pilihan yang tidak sesuai.
·      Buat peraturan kelas yang jelas mengenai ganjaran dan hukuman.
·      Puji murid apabila dia mematuhi peraturan dan tidak membantah.
c.    Masalah dalam tugas yang tidak di selesaikan
·      Beri tugas yang intensif, tetapi ringan
·      Buat perjanjian dengan murid dimana ia dapat menentukan hadiah untuk tugas yang dia selesaikan.
·      Jangan memaksa murid untuk menulis, apabila tulisannya tidak dapat di perbaikinya karena ia mungkin menghadapi masalah motorik.
·      Periksa tugas murid secepat mungkin dan serahkan kembali untuk membuatnya mendapatkan penilaian segera.
·      Beri hadiah, apabila murid memberi tugas yang rapi, lengkap, dan tepat waktu.
·      Guru harus spesifik memberi perintah, supaya murid tidak keliru.
d.   Masalah yang berkaitan dengan sosial
·      Ajarkan murid dengan berbagai cara untuk memberi respons terhadap situasi sosial.
·      Minta mereka membaurkan diri dalam kumpulan murid lain yang mempunyai masalah dalam kemampuan soaial.
·      Aturlah agar ada temannya yang dapat membantu seorang murid dalam situasi sosial pada waktu-waktu tertentu.
·      Perkenalkan murid pada aktifitas kelompok kecil dan kembangkan kelompok itu, bila murid bersedia.
·      Perkenalkan murid pada pekerjaan yang menuntut mereka harus bekerjasama dengan murid lain, untuk mencapai tujuan bersama.
·      Puji murid sesering mungkin apabila ia tidak menunjukan sikap agresif/tingkah lakunya yang tidak baik.
e.    Masalah dalam berkonsentrasi dan mengikuti arahan
·      Beri petunjuk yang jelas, sebelum memberikan arahan/informasi penting, kepada murid supaya ia dapat berkonsentrasi.
·      Berilah suatu arahan pada suatu waktu dan usahakan menjadi semudah mungkin.
·      Siapkan tempat yang nyaman dan terhindar dari gangguan.
·      Pujilah murid apabila ia mengikuti arahan dan memberi perhatian.
·      Pastikan alat bantu yang di berikan sesuai dengan tahap pembelajaran murid berkebutuhan khusus.
·      Gunakan berbagai teknik visual dan auditoris untuk menarik minat murid terhadap pembelajaran.

3.    Mengenai murid menderita cacat ringan
a.    Akademis
·      Wujudkan aktifitas untuk kemampuan dasar yang dapat di kaitkan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari murid.
·      Sediakan bahan yang sesuai dengan tahap kemampuan murid.
·      Sediakan aktifitas yang dapat mendorong murid untuk mandiri.
b.    Membaca
·      Sediakan aktifitas yang memberi fokus pada bacaan informasi dan apa saja yang menarik perhatian.
·      Sediakan aktifitas yang mengharuskan murid memedulikan lingkungannya.
·      Buat aktifitas yang membuat jadwal murid menjadi biasa dengan menu.
c.    Tulisan dan ejaan
·      Minta murid untuk menulis daftar hal yang harus di lakukan pada setiap hari.
·      Sedikan aktifitas seperti pelayanan pengantaran pesanan di dalam kelas, untuk membuat murid dapap mencatat pesanan dan mengantarnya kepada murid lain.
d.   Matematika
·      Dorong murid memasak supaya ia mahir dengan ukuran dan jumlah.
·      Dorong murid untuk mencatat suhu setiap hari.
·      Libatkan murid dalam aktifitas yang melibatkan penghitungan seperti mengukur tinggi temannya.
·      Lakukan aktifitas simulasi jual beli.

4.      Menangani murid dengan gangguan konsentrasi (ADD/ADHD)
a.    Interaksi sosial
·      Kenali tingkah laku sosial yang sesuai untuk murid.
·      Duduk dengan murid  dan buat perjanjian yang jelas yang di dalamnya menyatakan tujuan yang harus di capai oleh murid.
·      Gunakan pujian secara lisan dan tertulis.
·      Hadapkan murid pada interaksi kelompok keci, yang di beri tujuan yang harus di capai.
·      Lakukan interaksi antar teman dan kerjasama sesering mungkin, supaya murid tidak harus duduk dan diam untuk waktu yang lama.
·      Kenali kelebihan murid yang dapat di umumkan kepada teman-teman yang lain.
·      Jalankan situasi memainkan peran dengan murid tersebut dan tekankan pada penggunaan kemampuan yang spesifik.
b.    Kemampuan dalam mengurus diri
·      Buat tugas untuk di buat di rumah dan di serahkan pada murid sebelum dia pulang.
·      Minta orang tua untuk mengurus murid di rumah dengan mengatur perlengkapanya supaya murid dapat menyediakan kebutuhannya keesokan harinya.
·      Hindari untuk memberi tugas dan arahan yang bermacam-macam.
·      Dorong mereka untuk menggunakan komputer, karena ini dapat mendorong murid untuk membuat laporan/tugas dalam bentuk print out.
c.    Masalah tumpuan
·      Guru dapat meminta murid menyelesaikan semua tugas di sekolah.
·      Selalu berikan murid waktu tambahan untuk membuatnya dapat menyelesaikan tugasnya.
·      Berikan tugas yang ringan, tetapi intensif.
·      Jika murid mengalami masalah dalam mendengar dan mencatat, perintahkan temannya untuk membantu.
d.   Sikap impulsif
·      Guru harus bersikap realistis tentang apa yang di harapkan mengenai tingkah laku murid.
·      Ajarkan tingkah laku yang sesuai dengan pengakuan secara langsung untuk respon positif, dan jangan setengah-setengah dalam memberi hadiah untuk respon / tindakan yang negatif.
·      Sediakan jadwal yang menentukan bila waktunya murid boleh meninggalkan tempat duduknya untuk melakukan aktifitas lain supaya murid dapat melakukan istirahat sesuai dengan keinginannya.
e.    Kemampuan akademik
·      Bimbing murid untuk menggunakan kertas diagram saat membuat tugas matematika agar ia dapat mengetahui tempat yang benar untuk mencatat nomor.
·      Bimbing murid menggunakan kalkulator saat membuat tugas jika tujuan utamanya adalah untuk menyelesaikan tugas.
·      Bimbing murid untuk menggunakan berbagai jenis peralatan dalam mencatat informasi.
·      Gunakan sarana yang dapat di manipulasi untuk menjaga minat murid.
·      Sampaikan apa tujuan tugas yang di beri kepada murid dan sediakan sarana yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut.
f.     Ekspresi emosi
·      Guru harus menyadari keterbatasan murid dalam memberi perhatian dan menunjukan perasaanya.
·      Beri pilihan kata-kata yang berkaitan dengan emosi.
·      Ajarkan murid tentang bagaimana menyalurkan kemarahan yang sehat.
·      Cobalah beri kekuasaan kepada murid untuk fokus terhadap semua aspek kehidupannya yang dapat di kontrolnya.




BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Di Indonesia pendidikan anak berkebutuhan khusus telah dimulai sejak zaman Belanda pada saat itu, pemerintah kolonial memperkenalkan sekolah dengan orientasi barat untuk pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat. (Tuna Grahita pada tahun 1927, Tuna Rungu 1930 di Bandung). Tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan melalui Pasal 6 ayat 2 “Pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan” .
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, harus merasa nyaman, aman, dan terjaga, ketika menerima pelajaran (goldsmith dan goldsmith, 1998) dan penting pula untuk mewujudkan dalam lingkungan kelas, agar membuat anak-anak luar biasa, dapat memberi makna terhadap dunia skitarnya dan membentuk konsep tentang lingkungan mereka (brown,dkk, 1998).
Guru harus menggunakan variasi teknik untuk mewujudkan lingkungan pembelajaran yang lebih kondusif untuk membantu atau menangani murid dengan berkebutuhan khusus.

b.      Saran
Dari pembahasan di atas,saya menyarankan bahwa, adanya anak berkebutuhan khusus, di tengah-tengah suatu bangsa, merupakan suatu tugas bagi pemerintah, dalam menyediakan fasilitas-fasilitas yang akan menunjang segala kebutuhan mereka. Fasilitas tersebut, misalnya Guru yang kompeten dalam menangani anak berkebutuhan khusus, Sekolah yang dapat mengembangkan potensi-potensi anak berkebutuhan khusus, dll. Mengingat setiap anak, baik anak normal maupun anak berkebutuhan khusus, mereka pasti mempunyai potensi, yang mungkin tidak dapat di miliki oleh individu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

2.    Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Refika Aditama.
3.    Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
4.    Geoniofam, Mengasuh dan Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus,Garailmu, Jogjakarta2010.
5.    Muhammad K.A Jamila, Special Education For Special Children. Mizan Media Utama. Bandung 2007.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar